MEMANFAATKAN KECERDASAN UNTUK MENINGKATKAN KEBAIKAN

Created on Friday, 06 September 2013

 

 


Pembicaraan berikut ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan yang terdahulu, yaitu pembicaraan masalah ANAK SHOLEH ATAU ANAKNYA SENDIRI YANG SHOLEH ?

Antono
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Oke Setiawan
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. 

Sesuai janji bapak, pembicaraan berikutnya menyangkut, pesan Rasulullah bahwa manusia itu harus FATHONAH atau CERDAS, iya-kan pak? 

Antono
Betul mas, Rasulullah menyarankan bahwa manusia itu harus fathonah atau cerdas.
Mengingat apa yang dikatakan Rasul itu juga dibenarkan oleh Allah, berarti pengunaan akal secara cerdas itu PASTI SANGAT PENTING, iya-kan-mas ?

Oke Setiawan
Iya pak.
Bagaimana penjelasannya pak, sehingga penggunaan akal secara cerdas itu penting.

Antono
Coba perhatikan, dalam hal menentukan sikap, peran akal, atau otak sangat menentukan terhadap apa yang akan diperbuat oleh manusia.
Untuk menentukan benar dan tidaknya perbuatan orang juga diperlukan pemikiran atau pertimbangan yang mengaitkan peran akal.
Tingkat kecerdasan otak sangat berpengaruh terhadap penilaian suatu kejadian, atau memandang suatu kejadian.
Contoh.
Anak kecil yang belum faham Ilmu PEMBIASAN , kalau melihat PENSIL yang dimasukkan ke dalam GELAS yang diisi air putih pasti berkomentar bahwa pensil tersebut BENGKOK.
Padahal sebenarnya pensil tersebut LURUS atau TIDAK BENGKOK, adapun kelihatannya BENGKOK sebenarnya adanya peran PEMBIASAN.
Inilah bukti bahwa keterbatasan otak atau keterbatasan kecerdasan otak dapat mempengaruhi hasil keputusan, sehingga dapat berpengaruh terhadap BENAR & TIDAKNYA SUATU KEPUTUSAN.

Oke Setiawan
Iya –ya pak ternyata kecerdasan otak itu SANGAT PENTING.
Maaf pak saya mau Tanya, apa ada lagi yang harus kita perhatikan terhadap perintah penggunaan akal atau otak secara fathonah atau cerdas.

Antono
Ada mas, dan ini sangat penting.

Oke Setiawan
Apa pak.

Antono
MERUBAH PARADIGMA atau merubah SUDUT PANDANG.

Oke Setiawan
Contohnya bagaimana pak.

Antono
Contohnya begini :
Kegiatan “MENGIRIM AL-FATHEHAH” kepada orang yang sudah meninggal dunia.
Sikap UMUM Manusia , sekali lagi sikap umum manusia yang terkait dengan “MENGIRIM AL-FATHEHAH” BIASANYA adalah : mencari TAHU apakah “MENGIRIM AL-FATHEHAH” BOLEH atau TIDAK, begitu tho mas ?

Oke Setiawan
Iya pak, dan kebetulan kemarin ada pertanyaan dari tetangga saya seperti itu.

Antono
Nah inilah yang saya maksudkan.
Mari kita laksanakan perintah Rasulullah bahwa kita HARUS FATHONAH.

Oke Setiawan
Maksud bapak bagaimana ?

Antono
Begini maksud saya:
Cobalah penggunaan KECERDASAN OTAK untuk MERUBAH PARADIGMA atau SUDUT PANDANG.
Misalnya dalam hal menghadapi kegiatan “MENGIRIM AL-FATHEHAH”.
Kalau semula kita ingin mengetahui, apakah kegiatan tersebut BOLEH atau TIDAK , maka cobalah dirubah menjadi : kita akan “MENGIRIM atau TIDAK”, sekali lagi “MENGIRIM atau TIDAK Mengirim”.

Oke Setiawan
Dimana perbedaan -nya pak.

Antono
Mari kita analisa bersama.
Jika kegiatan kita ingin MENGETAHUI , apakah “MENGIRIM AL-FATHEHAH” itu BOLEH atau TIDAK maka hasil yang akan kita dapatkan adalah :
1. Kegiatan tersebut dapat DIPERBOLEHKAN atau TIDAK DIPERBOLEHKAN.
2. Jika DIBOLEHKAN maka yang kita lakukan adalah “MENGIRIM AL-FATHEHAH” dengan cara MENCONTOH yang sudah BIASA DILAKUKAN.
3. Jika TIDAK DIBOLEHKAN maka kita TIDAK AKAN MELAKUKAN, bahkan kita akan MELARANG anak atau saudara, atau teman, atau mungkin orang lain untuk tidak melakukan Mengirim Al-Fatehah.
4. Sebagai catatan : Jika hasil analisa atau keingin tahuan tersebut sudah benar maka tidak akan masalah, tetapi jika hasil analisa tersebut SALAH maka, hal ini akan berbuntut panjang. Misalnya yang benar seharusnya DIBOLEHKAN, tetapi keputusannya atau hasil analisanya TIDAK BOLEH DILAKUKAN, apalagi sudah MELARANG PIHAK LAIN, wah kalau begini urusannya menjadi sangat panjang karena firman Allah bahwa “Sekecil zarrah perbuatan manusia akan diperhitungkan”, sehingga barang siapa yang tidak pernah “mengirim Al-Fatehah”, tentunya TIDAK akan PERNAH DIKIRIMI, apalagi MELARANG orang lain “mengirim Al-Fatehah”.

Oke Setiawan
Lantas apakah yang dimaksud merubah PARADIGMA dalam kasus ini pak ?

Antono
Tadi sudah saya sampaikan coba yang dilakukan adalah :
“MENGIRIM Al-Fatehah” atau TIDAK mengirim.
Dalam menentukan keputusan MENGIRIM atau TIDAK, tentunya kita mempertimbangkan kemungkinan HASILNYA, dalam hal ini :
Jika MENGIRIM, kemungkinan hasilnya DAPAT DITERIMA atau TIDAK.
Jika DITERIMA , Alhamdulillah.
Jika TIDAK DITERIMA berarti TIDAK ADA Hasilnya, tetapi harus diingat dan ini SANGAT PENTING jangan sampai menghasilkan DOSA, inilah peran KECERDASAN Otak.
Jika TIDAK MENGIRIM hasilnya jelas-jelas NOL atau TIDAK MENGHASILKAN karena memang tidak mengirim.
Dari dua kemungkinan tersebut maka, laksanakan perintah Rasullullah tersebut yaitu sikap FATHONAH, atau CERDAS.
Maaf, mas oke dapat mengerti?

Oke Setiawan
Silahkan lanjutkan pak.

Antono
Mari kita coba lanjutkan.
Kita putuskan kita akan “MENGIRIM AL-FATEHAH”.
Langkah yang kita lakukan adalah mengevaluasi apakah Al-Fatehah yang akan kita kirim tersebut ADA MANFAATNYA, Jika ada mafaatnya, apakah manfaatnya BAIK.
Jika Al-Fatehah itu ADA MANFAATNYA & MANFAATNYA BAIK, maka langkah berikutnya bagaimana CARA MENGIRIMNYA agar SAMPAI Kepada yang dikiriminya atau yang DITUJU.

Tahap Pertama.
Langkah Pertama yang akan kita evaluasi adalah ADAKAH manfaat dari Al-Fatehah itu?
Al-Fatehah itu firman Allah berarti sumbernya dari Allah.
Apapun yang berasal dari Allah PASTI ADA MANFAATNYA.
Begitu juga Al-Fatehah.
Berarti Al-Fatehah PASTI ADA manfaatnya.
Langkah berikutnya kita evaluasi BAIK-kah manfaat Al-Fatehah itu?
Semua mengetahui bahwa apapun yang berasal dari Allah PASTI BAIK manfaatnya, termasuk Al-Fatehah.
Kesimpulan Tahap Pertama adalah :
Al-Fatehah ADA manfaatnya dan manfaatnya BAIK, sehingga SANGAT BAIK UNTUK DIKIRIMKAN kepada orang yang sudah meninggal dunia.

Tahap Kedua.
Bagaimana CARA MENGIRIMKAN Al-Fatehah agar SAMPAI kepada yang akan kita kirimi.
Menurut mas Oke bagaimana.

Oke Setiawan
Wah bagaimana ya pak ?.
Saya kok kurang faham cara mengirimnya.

Antono
Jangan begitu mas, biasanya mas oke itu JELI lho ?
Coba berdoa sebentar agar Allah memberi petunjuk dan mengijinkan mas oke menggunakan KECERDASAN -nya untuk memecahkan masalah ini.

Oke Setiawan
Sebentar pak.

Antono
Ya silahkan.

Oke Setiawan
Ya pak saya sudah berdoa, tolong saya dibantu untuk menganalisa CARA mengirimnya.

Antono
Coba diurutkan dari awal ya mas ?

Oke Setiawan
Apa maksud “Diurutkan dari awal” pak ?

Antono
Yang dimaksudkan adalah apakah tujuan pokok yang mas Oke lakukan ?

Oke Setiawan
Tujuan pokok saya adalah saya ingin mengetahui bagai mana CARA-nya mengirim Al-Fatehah agar dapat sampai ketempat yang saya kirimi pak.

Antono
Ya betul, tujuan mas oke adalah mengirim agar SAMPAI ketujuan atau dengan kata lain agar NYAMBUNG atau agar BERMANFAAT bagi yang dikirimi, begitu-kan mas ?

Oke Setiawan
Ya pak.

Antono
Coba diingat-ingat apa aturannya atau apa syaratnya agar orang yang sudah meninggal dunia masih dapat bertambah PAHALA-nya, atau masih dapat MENERIMA kiriman dari orang yang MASIH HIDUP di dunia.

Oke Setiawan
Ow, iya-pak.
Saya ingat , dalam pembicaraan ANAK SHOLEH ATAU ANAKNYA SENDIRI YANG SHOLEH ? sudah dibicarakan yaitu ada tiga ( 3 ) : DOA, AMAL ZARIAH dan ILMU yang BERMANFAAT.

Antono
Nah ternyata ada PELUANGnya –kan?
Ternyata orang yang sudah meninggal masih dapat bertambah pahalanya, atau masih dapat DIKURANGI SIKSAAN-nya melalui tiga hal yaitu DOA, AMAL ZARIAH dan ILMU yang BERMANFAAT.
Lantas menurut mas oke, sarana mana yang dapat kita pakai, apakah sarana yang berupa DOA, sarana yang berupa AMAL ZARIAH atau sarana yang berupa ILMU yang BERMANFAAT?.

Oke Setiawan
Menurut saya sarana yang dipakai adalah sarana yang berupa DOA.

Antono
Ya, BETUL SEKALI.
Coba saya ingin mengetahui apakah alasannya sehingga mas oke memilih DOA sebagai sarananya, kok bukan AMAL ZARIAH atau ILMU yang BERMANFAAT.

Oke Setiawan
Wah kalau ini mudah pak jawabannya.
Begini pak:
Kalau AMAL ZARIAH dan ILMU yang BERMANFAAT itu yang melakukan –kan ORANGNYA SENDIRI, sehingga TIDAK MUNGKIN orang yang sudah mati dapat MENGAMALKAN AMAL ZARIAH dan MENGAMALKAN ILMU YANG BERMANFAAT , kecuali orang tersebut MASIH HIDUP.
Sedangkan MENGIRIM Al-Fatehah kepada orang yang sudah mati HARUS atau PASTI dilakukan oleh ORANG LAIN, (wajarkan yang namanya MENGIRIM , PASTI dilakukan oleh ORANG LAIN).
Dari analisa tersebut, berarti sarana yang dipakai PASTI BUKAN melalui AMAL ZARIAH dan ILMU yang BERMANFAAT, tetapi kemungkinan terakhir yaitu melalui sarana DOA, sekali lagi karena perbuatan yang akan dilakukan adalah MENGIRIM (MENGIRIM berarti yang melakukan ORANG LAIN).
Sekarang tinggal satu langkah lagi.
Bagaimana MENGIRIM Al-Fatehah tetapi dikemas dalam bentuk DOA, begitu tho pak?

Antono
Wah-wah-wah- SALUUT mas, ya begitulah salah satu bentuk melaksanakan perintah Rasulullah, agar kita FATHONAH.
Lantas bagaimana mas cara mengemas MENGIRIM Al-Fatehah tetapi dikemas dalam bentuk DOA?

Oke Setiawan
Kalau ini tidak begitu sulit pak.
Berdoa saja agar Allah berkenan MENYAMPAIKAN MANFAAT Al-Fatehah kepada si Fulan yang sudah meningal dunia.
Misalnya begini:
“Ya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, saya MOHON kepadamu, TOLONG SAMPAIKAN Fadhilah atau MANFAAT Al-Fatehah ini untuk si Fulan bin bapaknya si Fulan, Al-Fatehah” (kemudian membaca Al-Fatehah).
Begitu tho pak?

Antono
Ya - BENAR.
Kalau Allah mengabulkan DOA kita berarti yang menyampaikan manfaat Al-Fatehah –ya- Allah.
Jika Allah yang menyampaikan PASTI SAMPAI.
Bagus mas.
Mas oke menyadari nggak bahwa mas Oke telah melakukan suatu perbuatan yang BIJAKSANA.

Oke Setiawan
Perbuatan apa pak, kok saya tidak mengerti kalau saya telah melakukan perbuatan yang BIJAKSANA ?

Antono
Begini :
Yang mas Oke lakukan adalah MENGANALISA bagaimana caranya agar KIRIMAN Al-Fatehah dapat SAMPAI KETEMPAT TUJUAN dan BUKAN menganalisa BOLEH atau TIDAK-nya Mengirim Al-fatehah, iya-kan?

Oke Setiawan
Iya pak.

Antono
Nah coba seandainya yang mas oke lakukan adalah menganalisa BOLEH atau TIDAK Mengirim Al-Fatehah, dan misalnya hasil analisanya TIDAK BOLEH, bisa lho yang mempunyai pendapat BOLEH menjadi TERSINGGUNG, apalagi analisa mas Oke belum tentu benar, iya kan ?.
Atau sebaliknya, iya-kan mas?
Tetapi jika dalam mengalisa tersebut TIDAK MENGHASILKAN jawabannya, tentunya TIDAK ADA yang tersinggung, tetapi kalau ketemu jawabannya- Alhamdulillah, apalagi jika ANALISA MAS Oke ini dapat membantu orang lain sehingga orang lain menjadi MENGERTI bahwa MEMANFAATKAN KECERDASAN OTAK ITU SANGAT PENTING untuk menentukan sikap dalam berbuat, maka tanpa disadari mas oke telah membuat POHON AMAL berupa ILMU YANG BERMANFAAT, yang mudah-2an DAPAT BERMANFAAT walaupun mas oke sudah meninggal dunia, iya kan mas ?

Oke Setiawan
Wah-wah-wah- BETUL pak.
Ternyata perintah Rasulullah untuk menggunakan otak kita secara FATHONAH ternyata SANGAT PENTING ya pak ?

Antono
Iya- mas.
Ada lagi manfaat pengunaan FATHONAH atau KECERDASAN yang LUAR BIASA PENTINGNYA bahkan menurut saya SANGAT dan SANGAT PENTING, karena dapat SANGAT MEMBANTU MENGHADAPI SEGALA RINTANGAN atau-pun HAMBATAN dalam mengarungi KEHIDUPAN.

Oke Setiawan
Waduh apa itu pak ?
Kalau begitu SANGAT PENTING pak ?.
Tolong sampaikan pak, PASTI perlu untuk saya.

Antono
Santai saja mas, insya allah akan saya sampaikan, tetapi istirahat dulu, ya, silahkan makan kacang rebusnya.

Oke Setiawan
Oya pak , seperti biasanya materi ini kita pakai sebagai bahan pengajian untuk teman-2 kita ya pak?

Antono
Ya silahkan dan silahkan judul apa sebaiknya.
Oke Setiawan
Begini saja pak judulnya, walaupun agak panjang yang penting mudah difahami.
MEMANFAATKAN KECERDASAN UNTUK MENINGKATKAN KEBAIKAN

Antono
Wah- siiiip mas.
Kita istirahat dulu ya.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Oke Setiawan
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jadwal Pengajian seluruh cabang Ridho Allah untuk sementara di liburkan selama bulan Ramadhan. Aktifitas di saung setiap hari selama bulan Ramadhan: Ifthar, Sholat Magrib, Shalat Isya, Tarawih Berjamaah & Tadarus Qur'an
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H, Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan
iklan1
iklan 2
iklan3
Wednesday the 13th. Keluarga Besar Ridho Allah 2013