SUDAH BENARKAH SHOLAT KITA ?

Created on Friday, 06 September 2013

 

 


Oke Setiawan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Dimana sekarang dikantor atau dirumah?

Antono

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. 

Di kantor .
Wah biasanya siang , ada apa kok pagi-2 sudah chating- mas?

Oke Setiawan
Kebetulan aja pak, nunggu warnet, sambil buka-buka facebook, eee bapak ada , ya saya coba-2 chating, gitu lho pak.

Antono
Ow- begitu.
Kapan mas oke silaturahmi ke Jakarta, kumpul-2 anggota keluarga Ridho Allah lainnya?

Oke Setiawan
Iya pak, insya allah dalam waktu dekat saya akan ke Jakarta dan akan mampir ke rumah bapak.

Antono
Ya, saya tunggu mas dan sebaiknya kalau ke Jakarta jangan lupa mampir ke secretariat RA sambil SIARAN RADIO, 105.20 FM, mas oke jadi penyiarnya - ya.

Oke Setiawan
Ya pak, sudah lama saya tidak siaran, rasanya kangen juga.

Antono
Nah kalau begitu, jangan sampai tidak mampir ke secretariat – lho ? 

Oke Setiawan
Oya pak, saya usul bagaimana kalau kita mengadakan ziarah lagi, sekaligus hiburan untuk keluarga, bagaimana pak, bapak setuju?

Antono
Ow kalau soal ziarah saya setuju saja, hanya saja diatur waktunya agar pesertanya banyak yang ikut.

Oke Setiawan
Pak sebenarnya saya mau mampir ke rumah bpk, karena saya ada urusan pribadi yang SANGAT PENTING.

Antono
Urusan apa tho mas, kok kayaknya penting banget.

Oke Setiawan
Iya pak, tapi kalau bpk tidak repot boleh nggak kalau masalah ini saya sampaikan sekarang saja?

Antono
Ya nggak apa-2, coba saja siapa tahu dapat kita selesaikan sekarang, shg nanti kalau kerumah tinggal cerita yang santai-2 saja, begitu-kan?

Oke Setiawan
Iya pak, sebelumnya terima kasih.
Begini pak :
SHOLAT itu penting sekali ya pak?

Antono
Ow- jelas donk, bahkan nanti yang pertama kali diperiksa adalah SHOLAT.
Ada apa tho kok Tanya mengenai Sholat?

Oke Setiawan
Begini pak :
Betul nggak pak ada kisah (Hadits) yang isinya sbb:
Ada orang mengerjakan sholat di Masjid, kebetulan Rasulullah mengetahuinya.
Selesai orang tersebut sholat, oleh Rasullullah, orang tsb disuruh MENGULANGI sholatnya, sampai 3 kali. 
Karena oleh Rasulullah orang tsb. disuruh MENGULANGI sholatnya berarti WALAUPUN menurut kita SUDAH Sholat tetapi menurut Rasulullah kita dianggap BELUM sholat, dan kalau menurut Rasulullah, kita dianggap BELUM sholat, PASTI menurut Allah-pun kita dianggap BELUM sholat, karena apa yang dikatakan Rasul itu sesuai dg apa yang disampaikan Allah SWT, iya kan pak?

Antono
Betul sekali.

Oke Setiawan
Lantas bagaimana pak sholat yang benar itu?

Antono
Begini mas sebelumnya saya ber-PESAN dan ini PENTING , Kalau baca penjelasan saya dibawah ini JANGAN HANYA SEKALI baca ya mas, soalnya PERLU PENDALAMAN , sebaiknya membacanya 2 atau 3 kali, agar faham sekali, terima kasih.
Baik-lah sekarang saya mulai ya :
Sesuai sabda Rasulullah (Hadits) : Rasulullah bersabda mengenai sholat yang isinya :
“SHOLAT-LAH SEPERTI SHOLATKU”
Maksudnya sholatlah seperti sholat yang dilakukan Rasulullah.

Oke Setiawan
Lho bagaimana pak, bukankah kita lahir kedunia, Rasulullah telah meninggal dunia, bagaimana kita mengetahui bahwa sholat kita sudah sama dengan yang dilakukan Rasulullah?

Antono
Bener nih, mas oke tidak tahu caranya untuk MENYAKINKAN bahwa sholat kita sudah sama atau belum dengan sholat yang dilakukan Rasulullah?

Oke Setiawan
Betul pak saya tidak mengerti, karena kenyataannya sholat yang dilakukan orang begitu banyak ragamnya dan hampir semuanya MERASA BENAR, begitu tho pak?

Antono
Ya memang demikian kenyataannya, mas oke benar ingin mengetahui caranya untuk menyakinkan diri?

Oke Setiawan
Ya pak tolong saya dikasih tahu.

Antono
Begini mas :
Yang disebut Hadits itu sebenarnya juga Firman Allah.
Padahal kalau Allah berbuat dalam hal ini termasuk ber-Firman (berkata) tentunya TIDAK mungkin SIA-SIA, berarti PASTI dimungkinkan dapat diwujudkan, termasuk manusia mengetahui bahwa sholat kita SUDAH sesuai dengan sholat yang dilakukan Rasulullah, iya kan mas?

Oke Setiawan
Iya pak, seharusnya memang begitu.

Antono
Caranya sebagai berikut :
1. Kita yakini bahwa GHAIB itu ada ( ingat Rukun Iman ada 6 ), salah satunya Iman kepada Ghaib.
2. Kita pelajari, kita dalami, kita manfaatkan dengan benar Ghaib yang BAIK, begitu mas.

Oke Setiawan
Lho kenapa kita harus mempelajari, mendalami dan memanfaatkan dengan benar Ghaib yang BAIK, bukankah Ghaib itu cukup kita Imani-atau kita yakini saja, pak?

Antono
Coba mas oke jawab pertanyaan saya:
Salah satu rukun iman adalah kita beriman kepada Kitab suci Al-Qur’an, betul-kan mas?

Oke Setiawan
Betul pak.

Antono
Apakah kita “CUKUP” BERIMAN saja TANPA mempelajari-nya, tanpa memperdalam dan tanpa MEWUJUDKAN dalam kehidupan kita sehari-hari ?

Oke Setiawan
Ya nggak boleh pak kalau hanya kita yakini saja, tentunya memang harus kita pelajari, kita dalami, dan kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari, karena Al-Qur’an merupakan PEDOMAN HIDUP.

Antono
Nah kalau begitu sama donk, masalah GHAIB, bukan-kah salah satu rukun iman, kita harus beriman kepada yang GHAIB ?

Oke Setiawan
Iya pak.

Antono
Nah sekarang coba buka QS 6 : 122

Oke Setiawan
Ya pak , sebentar, saya mengambil Al-Qur’an dulu.
Nah sudah pak.

Antono
Coba bacakan.

Oke Setiawan
Iya pak sebagai berikut :
6. Al An'aam
122. Dan apakah orang yang sudah mati[502] kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

Antono
Kita simpulkan ayat tersebut diatas :
Kita disuruh membandingkan diantara dua orang yang sudah mati, apakah kondisi dua orang tersebut sama ( kalimatnya : Dan apakah orang yang sudah mati…………. SERUPA dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita………. ).
Salah satu orang tersebut sudah mati ( kalimatnya : Dan apakah orang yang sudah mati ….. ), kemudian DIHIDUPKAN lagi ( kalimatnya : kemudian dia Kami hidupkan …. ), kemudian orang tersebut diberi CAHAYA yang terang, atau NUR, ( kalimatnya : dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang…….. ), kemudian dengan cahaya itu, atau Nur itu manusia tersebut dapat BERJALAN-JALAN ditengah-tengah MASYARAKAT berarti dapat BERHUBUNGAN atau BERKOMUNIKASI dengan orang yang masih HIDUP (kalimatnya : yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia ….. ).
Kondisi orang yang satunya adalah dalam kegelapan, kita mengetahui hal ini disebabkan banyak dosanya ( kalimatnya : orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita … ), kemudian orang tersebut tetap dalam kondisi kegelapan yaitu tetap disiksa, tidak dihidupkan lagi ( kalimatnya : yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya …… ).
Allah membiarkan orang Kafir menganggap dirinya berbuat baik, walaupun kenyataannya kita semua mengetahui bahwa perbuatan orang kafir tidak baik ( kalimatnya : …. Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan ).

Oke Setiawan
Kalau saya boleh simpulkan sebagai berikut :
Ada orang yang sudah meninggal dunia, karena mendapat CAHAYA, atau NUR dari Allah, maka orang tersebut dihidupkan lagi oleh Allah dan DAPAT berjalan-jalan dan BERKOMUNIKASI dengan orang yang masih hidup, begitu tho pak ?

Antono
Ya BETUL sekali.

Oke Setiawan
Pertanyaan saya adalah :
1. SIAPAKAH orang itu ?
2. Cahaya, atau NUR apakah itu ?
3. Bagaimana caranya mendapatkan NUR tersebut ?

Antono
Wah-wah mas oke mulai cerdas dan ingin tahu aja.

Oke Setiawan
Lha iya tho pak, nggak apa-apa tho pak ?

Antono
Ya nggak apa-apa , malah bagus sekali.
Saya coba menjawab yang nomor satu dulu ya, SIAPAKAH orang tersebut ?
Kondisi orang tersebut sudah mati tetapi dihidupkan kembali dan dapat berkomunikasi dengan orang yang masih hidup.
Tentunya marilah kita cari ayat dalam Al-Qur’an yang isinya adalah :
Ayat yang menyatakan menurut kita orang itu SUDAH meninggal dunia tetapi menurut Allah SWT orang itu BELUM meninggal dunia, begitu tho mas ?

Oke Setiawan
Iya pak.

Antono
Coba buka QS 2 : 154

Oke Setiawan
Iya pak, begini isinya :
2. Al Baqarah
154. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup[100], tetapi kamu tidak menyadarinya.

Antono
Kesimpulan ayat tersebut adalah orang yang dimaksud adalah : orang-orang yang gugur di JALAN ALLAH ( kalimatnya :… janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup …. ).
Coba buka juga QS 3 : 169 mas ?

Oke Setiawan
Iya pak, sebentar, nah ini sudah ketemu, begini pak isinya :
3. Ali 'Imran
169. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.

Antono
Kesimpulan ayat tersebut adalah :
Orang yang dimaksud adalah orang yang gugur di jalan Allah ( kalimatnya : Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup … ).
Mereka hidup dalam Perlindungan atau dalam Kasih Sayang-nya Allah dan masih mendapat rezki ( kalimatnya : …. HIDUP[248] DISISI Tuhannya dengan mendapat REZKI ).
“MENGIRA” saja DILARANG biasanya mengira itu masih DALAM HATI itupun dilarang ( kalimatnya : Janganlah kamu mengira … ), kalau menurut QS 2 : 54 tersebut diatas “MENGATAKAN”-pun DILARANG ( kalimatnya : Dan janganlah kamu mengatakan … ), berarti : DALAM HATI & MENGATAKAN-pun DILARANG, kesimpulannya adalah : kita HARUS MENGAKUI, bahwa ada orang yang sudah mati, kemudian oleh Allah diberi NUR dan dengan Nur tersebut orang tersebut dapat BERKOMUNIKASI dengan orang yang masih HIDUP, begitu tho mas ?

Oke Setiawan
Iya pak.
Lantas Cahaya, atau Nur apakah itu pak?

Antono
Sekarang kita cari ayat yang isinya bahwa dengan Nur tersebut orang yang sudah mati dapat hidup kembali, begitu tho mas?

Oke Setiawan
Iya pak, lantas ayat yang mana?

Antono
Coba buka QS 13 : 31

Oke Setiawan
Iya pak , sebentar saya bukanya.
Oya pak ini sudah saya dapatkan, begini isinya :
13. Ar Ra'd
31. Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia) …………..

Antono
Kesimpulan ayat tersebut adalah :
Ternyata Nur tersebut Nur yang berasal dari Al-Qur’an, yang menyebabkan manusia yang sudah meninggal dapat “hidup kembali” atau dapat berbicara atau dapat BERKOMUNIKASI( kalimatnya : Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu ……….. orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia)).

Oke Setiawan
Lantas bagaimana cara mendapatkan Nur tersebut pak ?

Antono
Wah cara mendapatkan Nur tersebut saya tidak mampu menjelaskan dengan tulisan mas, lebih baik mas Oke silaturahmi kerumah saja ya, biar diskusinya lebih mengena.

Oke Setiawan
Tolong sedikit diberi gambaran pak, agar saya mengerti seberapa jauh sulitnya mendapatkan Nur yang dimaksud.

Antono
Baiklah saya mencoba memberi gambaran sebagai ilustrasi saja.
Setujukah mas oke kalau Koruptor itu kita anggap sebagai orang yang melakukan perbuatan tidak baik ?.

Oke Setiawan
Setuju pak.

Antono
Kalau melakukan perbuatan yang tidak baik, kira-kira termasuk orang yang dalam kondisi DISIKSA (dalam kegelapan) atau termasuk orang yang mendapat Nur, sehingga terbebas dari siksaan ?

Oke Setiawan
Penilaian secara umum Koruptor termasuk orang yang disiksa, atau dalam kegelapan.

Antono
Pertanyaan berikutnya:
Koruptor tersebut kira-kira hafal nggak Surat Al-Fatehah?

Oke Setiawan
Saya kira hafal pak.

Antono
Nah mas oke mengerti kan, walaupun hafal Al-Fatehah, kalau kondisi kita sebagai Koruptor ternyata tetap dalam kegelapan, atau tidak mendapatkan Nur Al-Qur’an.
Ternyata sulit ya mas ?

Oke Setiawan
Iya pak.

Antono
Mas oke siap, kalau pembicaraan ini kita tingkatkan lagi ?

Oke Setiawan
Ya pak silahkan.

Antono
Saya mencoba mengambil contoh salah satu orang tersebut adalah sahabat Rasul yaitu Syaidina Ali, mas oke setuju?

Oke Setiawan
Baiklah kita coba analisa bersama pak.

Antono
Ya kita coba ya :
Syaidina Ali gugur di jalan Allah.
Syaidina Ali Ilmu Al-Qur’an-nya luar biasa, berarti secara teori mendapatkan Nur Al-Qur’an.
Syaidina Ali hidup semasa Rasulullah, berarti mengetahui bagaimana Rasulullah menjalankan SHOLAT.
Nah menurut saya beliau termasuk salah satu dari orang yang termasuk di QS 6 : 122 tersebut diatas, bagaimana mas oke setuju ?

Oke Setiawan
Ya pak saya setuju.

Antono
Nah berarti manusia yang masih hidup dimungkinkan dapat Berkomunikasi dengan “Syaidina Ali dalam kondisi yang telah mendapatkan Nur Al-Qur’an tersebut, yang sesuai dalam QS 6 : 122”, iya kan mas ?

Oke Setiawan
Nanti dulu pak.
Kenapa bapak tekankan memakai kalimat : “Syaidina Ali dalam kondisi yang telah mendapatkan Nur Al-Qur’an tersebut, yang sesuai dalam QS 6 : 122”, kenapa kok tidak memakai kalimat : “Syaidina Ali” saja ?

Antono
Beda donk mas.
Jika kalimat “Syaidina Ali” saja, dapat diartikan Syaidina Ali yang hidup semasa dulu.
Jika kalimat : “Syaidina Ali dalam kondisi yang telah mendapatkan Nur Al-Qur’an tersebut, yang sesuai dalam QS 6 : 122”, tentunya kondisi Syaidina Ali yang telah mengalami gugur di jalan Allah, iya kan mas ?

Oke Setiawan
Iya pak.

Antono
Nah jika manusia sekarang mampu berkomunikasi dengan Syaidina Ali dan Syaidina Ali menyatakan bahwa SHOLAT kita sudah BENAR, berarti menurut mas oke, setujukah kalau sholat kita sudah sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah ?

Oke Setiawan
Iya pak.
Masalahnya bagaimana caranya dapat berkomunikasi dengan Syaidina Ali ?

Antono
Nah itu dia !!!
Tetapi maksud saya menjelaskan hal ini sekedar membuktikan bahwa :
1. Betapa pentingnya kita mendalami Ghaib dengan benar (ingat salah satu rukun iman adalah iman kepada Ghaib).
2. Membuktikan bahwa dimungkinkan kita dapat menyakini bahwa sholat kita sudah benar, sehingga Hadits tersebut diatas betul-betul dapat diwujudkan, yaitu SHOLAT-LAH SEPERTI SHOLATNYA RASULULLAH.

Oke Setiawan
Wah-wah-wah, sekarang baru saya sadari pak, ternyata masih banyak yang harus saya pelajari, agar kita bebas dari siksa Qubur.
Ow iya pak, seperti biasanya setujukah kalau materi chating ini kita jadikan bahan pengajian hari ini ?

Antono
Ya silahkan saja mas, mudah-2an ada manfaatnya.

Oke Setiawan
Judul pengajiannya diberi nama apa ya pak ?

Antono
Lha iya enaknya diberi judul apa ya, coba mas oke usulkan baiknya apa ?

Oke Setiawan
Begini saja pak judulnya : SUDAH BENARKAH SHOLAT KITA ?

Antono
Ow – menarik juga mas.
Ya sudah saya setuju dan sekaligus saya pamit dulu ya, jangan lupa sampaikan kepada keluarga & teman lainnya, 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Oke Setiawan
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. 

Salam untuk keluarga.

Jadwal Pengajian seluruh cabang Ridho Allah untuk sementara di liburkan selama bulan Ramadhan. Aktifitas di saung setiap hari selama bulan Ramadhan: Ifthar, Sholat Magrib, Shalat Isya, Tarawih Berjamaah & Tadarus Qur'an
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H, Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan
iklan1
iklan 2
iklan3
Tuesday the 12th. Keluarga Besar Ridho Allah 2013