BIASAKANLAH TERSENYUM

Created on Wednesday, 24 July 2013

 

Tertawa yang wajar laksana balsem bagi kegaulan dan salep bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’sempat dikatakan juga dalam pepatah yang berbunyi,” Senyumlah didepan saudaramu adalah sedekah.” Bahkan, tertawalah sebagaimana Nabi Sulaiman ketika,berkata, ‘’Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan Rasuluullah s.a.w. sendiri sekali tertawa hingga tampak gerahamnya. Begitulah tertawanya orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatannya.”

 

Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah,” Janganlah engkau banyak tertawa,sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Yakni, tertawalah sewajarnya saja.

  

{…ia tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.} 

 

(QS. An-Naml: 19) 

 

Dan jangalah tertawa sinis dan sombong sebagaimana dilakukan orang-orang kafir, 

 

{…tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat kami dengan serta merta mereka menertawakannya.} 

 

(QS. Az-Zukhruf: 47) 

 

Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa. 

 

{Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.} 

 

(QS. Al-Muthaffifin: 34) 

 

Orang arab senang memuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut mereka, perangai yang demikian itu merupakan pertanda kelapangan dada, dan kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketangapan pikiran. 

 

Wajah nan berseri tanda suka memberi, 

 

dan, tentu bersuka cita saat dipinta 

 

Dalam kitab “Harim” Zuher bersyair, 

 

Kau melihatnya senantiasa gembira saat kau datang, 

 

Seolah engkau memberinya apa yang engkau minta padanya.

 

Pada dasarnya Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah,ibadah,akhak maupum tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak mengenal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang tak berarturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah. 

 

Abu Tamam mengatakan: 

 

Demi jiwaku yang bapakku menebusnya untukku 

 

Ia laksana pagi yang diharapkan dan bintang yang dinantikan 

 

Canda kadang menjadi pada keseriusan 

 

namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang 

 

Muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang rancau balau. Dan, 

 

{ Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut.} 

 

(QS. Al-Muddatstsir:23) 

 

Wajah mereka cemberut karena kesombongan 

 

seolah mereka dilempar dengan paksa ke neraka 

 

Tidak seperti kaum yang bila kau jumpai bak bintang 

 

gemintang yang jadi petunjuk bagi pejalan malam 

 

Sabda Rasulullah: “Meski engkau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.” 

 

Dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjelaskan demikian:” Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, dan orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.” 

 

Andaikan saja saya disuruh memilih antara harta yang banyak atau kedudukan yang tinggi dengan jiwa yang tenteram damai dan selalu tersenyum, pastilah aku memilih yang kedua. Sebab, apa artinya harta yang banyak bila wajah selalu cemberut? Apa artinya kedudukan bila jiwa selalu cemas? Apa artinya semua yang ada di dunia ini, bila perasaan selalu sedih seperti orang yang usai mengantar jenazah kekasihnya? Apa artinya kecantikan seorang isteri jika selalu cemberut dan hanya membuat rumah tangga menjadi neraka saja? Tentu saja, seorang isteri yang tidak terlalu cantik akan seribu kali lebih baik jika dapat menjadikan rumah tangga senantiasa laksana surga yang menyejukkan setiap saat. 

 

Senyuman tak ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan langit juga tersenyum. Langit, bintang gemintang dan burung-burung, semuanya tersenyum. Dan manusia, sesuai watak dasarnya adalah mahkluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam dirinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat, dan egoisme yang selalu membuat rona wajah tanpak selalu kusut dan cemberut. Adapun bila ketiga hal itu meliputi seorang, niscaya ia akan menjelma sebagai manusia yang selalu mengingkari keindahah alam semesta. Artinya, orang yang selalu bermuram durja dan pekat jiwanya tak akan pernah melihat keindahan dunia ini sedikitpun. Ia juga tak mampu melihat hakekat atau kebenaran dikarenakan kekotoran hatinya. Betapapun, setiap manusia akan melihat dunia ini melalui perbuatan, pikiran dan dorongan hidupnya. Yakni bila amal perbuatan baik,pikirannya bersih dan motivasi hidupnya suci, Maka kacamata yang akan ia gunakan untuk melihat dunia ini tampak sangat indah mempesona. Namun, bila tidak demikian, maka kacamata yang akan ia gunakan melihat dunia ini adalah kacamata gelap yang membuat segala sesuatu didunia ini tampak serba hitam dan pekat. 

 

Ada jiwa-jiwa yang dapat membuat setiap hal terasa berat dan sengsara. Tapi, ada pula jiwa-jiwa yang mampu membuat setiap hal menjadi sumber kebahagiaan. Konon,ada seorang wanita yang selalu di rumahnya melihat segala sesuatu salah di matanya. Akibatnya, sepanjang hari ia merasa dalam gelap gulita; hanya karena sebuah piring pecah,makanan keasinan karena terlalu banyak garam, atau kakinya menginjak sobekan kertas didalam kamar, ia sontak berteriak dan memaki siapa dan apa saja yang ada di rumahnya. Hal seperti ini sangat berbahaya sebagaimana percikan api yang setiap saat siap melahap apa saja yang ada di depannya. 

 

Ada pula seorang laki-laki yang acapkali membuat hidupnya dan orang-orang di sekelilingnya terasa berat dan sengsara hanya dikarenakan dirinya salah dalam memahami atau mengartikan maksud perkataan orang lain, perkara atak kesalahan sepele yang terjadi pada dirinya, keuntungan kecil yang tak berhasil diraihnya, atau dikarenakan oleh sebuah keuntungan yang tidak sesuai dengan harapan. Begitulah ia memandang dunia ini; semua terasa gelap. Ironisnya, ia pun akan membawa semua itu terasa berat pula oleh orang lain disekitarnya. Dan orang-orang seperti ini sangat mudah mendramatisir suatu keburukan; sebuah biji kesalahan ia besar-besarkan hingga tampak sebuah kubah, dan setangkai benih kesulitan dapat terasa seperti sebatang pohon kesengsaraan. Maka dari itu, merekapun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kebaikan; mereka tidak pernah puas dan senang dengan sebanyak apapun pemberian yang pernah ia terima. 

 

Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari dan ditekuni. Maka sangatlah baik bila manusia berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian, dan kecintaan didalam hidupnya. Itu lebih baik dari pada ia terus menguras tenaga dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Betapapan, apa arti hidup ini bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta, keindahan dalam hidup ini?

Jadwal Pengajian seluruh cabang Ridho Allah untuk sementara di liburkan selama bulan Ramadhan. Aktifitas di saung setiap hari selama bulan Ramadhan: Ifthar, Sholat Magrib, Shalat Isya, Tarawih Berjamaah & Tadarus Qur'an
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H, Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan
iklan1
iklan 2
iklan3
Wednesday the 13th. Keluarga Besar Ridho Allah 2013